Top ↑ | Archive | Ask

Semoga Hidupmu Benar-Benar Baik

Sepagi cicit burung gereja, pengamen cilik berdansa bak malaikat. Menggigil tanpa ingat yang terjadi kemarin atau esok. Tiada kebahagiaan atau kesedihan. Disunggingkannya sebuah senyum sembari mengadu beberapa tutup minuman. Peminta kecil itu tertawa, tergambar keceriaan sederhana. Adiknya, yang terlampau manja, bergelayutan di sebelah tangannya. Sandiwaramu tidak lebih dari patung yang wajahnya dicat. Salah satu dari selusin. Seperti boneka cantik yang rusak di pasar loak. Seperti seorang anak yang percaya hidupnya akan baik-baik saja.

Aduh, Banjir!

Sekarang matahari kerjanya ogah-ogahan kalau disuruh gedor-gedor pintu rumah orang pagi-pagi. Ia sering sekali bangun kesiangan. Fajar saja datangnya terburu-buru sampai tercebur ke selokan. Basah dan jadi kelabu. Awan tipis juga sibuk melarikan diri, mirip busa-busa yang dibilas air waktu liat awan tebal warna abu-abu dateng ramai-ramai. Jangkrik-jangkrik kecil yang berlesung pipit berteduh dari guyuran, ketika akhirnya turun hujan. Bertengger di pohon seperti hiasan natal yang rapuh. Kubah jamur semuanya basah. Compang-camping robek sana-sini mirip sayap burung habis berantem. Mirip dicakar-cakar anjing. Payung abang Sosro juga berpesan, “Berlindunglah di bawahku, kalau kau tak ingin basah”. Bukan salah air kalau ingin meluap, karena air juga punya rumah. Apa boleh buat, rumah milik air diambil sama manusia. Akhirnya, air berkelana di jalan-jalan nyari rumah yang baru.

Dilarang Menginjak Rumput!

Jadi rumput itu enak. Goyang sana, goyang sini. Tapi gak capek. Jadi rumput itu tabah. Diinjak, dikencingi, tapi tetap goyang sana-sini. Jadi rumput itu panutan. Buat Ebiet G Ade, orang-orang yang suka drama, sama penyair juga. Jadi rumput itu berjasa. Ngasih makan sapi, ngasih makan bapak tua yang punya sapi, ngasih makan anak bayi.

Ini Bukan Saint Saiya, Tau!

Aku bukan pengingat yang pintar. Karena itu, aku khawatir jangan-jangan aku akan lupa tentangmu. Kemudian, aku coba melukis yang jelek dan berantakan. Kupikir, lukisan tidak  mungkin lupa. Lupa dengan pelukis dan perasaannya.

Nek, Boleh Aku Cerita?

Nenek, aku cinta sekali sama cucumu. Tapi aku gak tau kapan Tuhan akhirnya mengambilku. Air mataku kalang kabut kejar-kejaran. Nenek, aku kesakitan. Jangan pernah nyerah. Gak ada siapapun yang mau saling kepisah. Cucuku butuh teman, kamu butuh pegangan. Kalian saling membutuhkan, bukan? Aku mau, Nenek. Aku mau ikut cucumu kemanapun dia mau. Tapi aku milik Tuhan. Tuhan mau aku cepat pulang. Nenek, aku cinta sekali sama cucumu. Cinta sampai langit gak mau lagi nurunin hujan. Cinta sampai bumi gak mau lagi jadi pijakan.

Pesta Bulan

Aku malam ini mau bikin pesta bulan. Tapi kenapa bulan belum dateng? Pada lupa ngundang bulan ya? Kadang kita bikin pesta karena lagi ada bulan, gimana kalau ternyata bulan jadi ada karena kita lagi bikin pesta? Ah, aku gak bisa nemuin bulan. Aku juga pernah gak bisa nemuin kamu. Tapi cuma waktu kita lagi main petak umpet. Kemana bulan? Mungkin bulan pulang ke rumah ibunya. Atau main ke rumah temannya. Atau lagi pesta di tempat lain. Atau lagi liburan. Bulan ada disitu kok. Dia lagi munggungin kita sampai gak bisa liat mukanya. Tapi nanti dia hadap sini lagi sebelum kamu sadar dia sempet gerak. Bulan itu terbuat dari bola keju yang gede banget. Ada tikus namanya Titus yang suka gigitin bola keju sampai perutnya hampir meletus. Tapi bohong kalau tikus doyan keju. Tikus paling suka sama yang bau-bau kayak kamu! “Day is gone, night is here. Got my friends near and dear. So dance and sing a happy tune. Underneath the shining moon~”

Doa Fish Finger

"TOLOOOONG!". Ikan teriak minta tolong jarinya mau dipotong. Mau dimakan orang-orang lapar yang lupa kalau ikan gak punya jari, ikan juga lupa. Sampai suaranya serak, ikan ingat kalau ia gak punya jari. Lalu berhenti teriak. Tapi teriak lagi karena sekarang ada sepuluh jari yang mau potong badannya jadi dua. Sebelum mati, ikan berdoa. Semoga sepuluh jari yang mau potong dia jadi dua, supaya ketusuk duri. Sebelum mati, ikan berdoa. Kalau dia jadi fish finger, semoga orang lapar yang suka nyinyirin kehidupan ketusuk duri lidahnya sampai lubang. Sebelum bikin ikan mati, sepuluh jari berdoa. Semoga kamu tenang di surga. Semoga yang enggan bersyukur, dilukai dunia.

Balada Sebuah Desa

TV disruduk banteng sampai kebelah jadi dua. Mata bapak ngiba gak bisa nonton bola. Ibu ketawa, akhirnya hidup bapak gak terus dibuang sia-sia. Bapak gak tau aja kalau bantengnya disewa ibu dari paman tetangga. Dibayar dua ribu sambil ngasih liat buah dada. Paman memang mafia. Mafia rumah tangga. Udah lima kepala keluarga dicurangi istrinya gara-gara dia. Modalnya cuma kumis sama bidangnya dada juga kemaluan raksasa. Bang Sarkon sapaannya. Bukan nama sebenarnya melainkan yang dibuat ibu-ibu rumpi desa. Hampir tiap hari Bang Sarkon kedatangan tamu wanita. Masih muda atau paruh baya. Lama-lama kepala desa gerah juga. Bukan apa-apa, tapi istrinya ikut digoda. Kepala-kepala rumah tangga datang ke rumah Bang Sarkon hari Selasa. Diayunkan celurit ke arah dada. Bang Sarkon meregang nyawa, sementara yang lain ketawa. Iya, ini sebuah desa yang dihuni ratusan setan berwujud manusia.